Kamis, 12 November 2009

Paling tidak semua sepakat ; telinga itu buat denger...

Source : Letto n Plettonic's Notes @ Facebook

Monday, February 23, 2009 at 1:02am
Kalau memang berbeda kenapa bisa hidup bersama? kalau memang tidak sama kenapa harus saling menyapa?

Meskipun berbeda-beda bahasa, budaya, warna kulit dan segala macam tetek bengek visual perbedaan. Bumi sepakat dalam mengamini sebuah ajakan kebaikan karena itu satu. Bumi menyepakati ekspresi kegembiraan, menyetujui ungkapan kegembiraan, karena itu satu.

Agama itu pemersatu, bahasa itu pemersatu, budaya itu pemersatu, seni itu pemersatu, banyak sudah sistem berjalan di atas bumi tapi perbedaaan lebih ditonjolkan.

Okelah ini klise! tapi biarin... sejauh mana kita mampu meninggalkan benda usang dengan persiapan yang matang? jujur saja kita belum pernah matang dalam mengkaji persoalan.

Dua orang saling berdebat tentang agama kemudian terjadi perang. Banyak yang mati akhirnya rukun lagi, ternyata perang cuman untuk sekedar mengenali arti perdamaian, ternyata kematian-kematian hanya untuk membayar kebodohan. Menyadari ruginya kedengkian.

Dua orang berdebat tentang warna kulit, akhirnya perang, kemudian banyak yang mati kemudian rukun lagi. Ternyata perang hanya untuk mengenali rasa saling menghargai.

Dua orang berdebat tentang benar dan salah, kemudian terjadi perang. Banyak korban berjatuhan! ribuan mati! kemudian terjadi diskusi gencatan senjata dan rukun kembali. Kemudian perang lagi, banyak korban lagi, banyak yang mati lagi. Mayat tak terurus! dimakan anjing, dimakan burung! kemudian damai dan rukun lagi. Ternyata hanya untuk menghayati harkat kemanusiaan dan kembali meratapi kesalahan. Akhirnya kebenaran yang diperdebatkan ternyata bukan kebenaran.

Dari belahan manapun tanpa pernah memiih, telinga buat mendengar, mata untuk melihat, dan hati untuk menghayati. Semua memiliki kengerian yang sama, semua memiliki harapan yang sama, semua manusia ternyata tidak berbeda. Bila kemudian mata tertipu, telinga masih bisa mendengar, bila telinga terkurung hasutan, hati kita adalah detektor canggih.

Hidup berdampingan dan damai adalah idaman, ya udah damai aja! tidak perlu mamaksa untuk menerapkan cara kita kepada orang lain. Biar semua memakai caranya sendiri-sendiri untuk mencapai kedamaian. Ibarat membuat rumah, bila ada yang mau megang palu silakan, ada yang mau pegang cangkul silakan, ada yang mau masang genteng silakan, ada yang mau ngaduk semen silakan, ada yang mau angkat-angkat aja silakan. semua dalam rangka membangun rumah yang damai untuk didiami bersama dan merasa saling memiliki dan membutuhkan.

Bangsa kita sedang akan dicoba lagi dengan kedewasaan memandang perbedaan! beware!! jangan-jangan bakal kepleset lagi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Profile

Foto saya
blog ini berisi segala cerita yang diharapkan bisa menginspirasi orang lain. selamat membaca :)

SiteMeter

Google Translate

Grey Floral ©  Copyright by blinded | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks